Kamis, 21 Juni 2012

Adi Setiawan


Masih ingat Adi Setiawan?
Ya... Pada bagian lain dengan tegas aku sebut dia pacarku.
Hari ini atau lebih tepat hari itu, aku benar benar dibuat kecewa, sakit hati, nangis menjerit jerit (hatiku maksudnya) dan tidak bisa tidur.
Dia membuat pengakuan yang membuatku seperti 'di atas', membelah hati jadi seribu keping (kau tau, bunyinya benar benar terdengar... Krakk!!), sakit..., rasanya mau mati saja. Kepercayaanku runtuh tak bersisa.
Mau tau apa yang dia akui?
Dengan polosnya, dengan gilanya, dengan tak berdosanya, dengan kurang ajarnya, dengan bodohnya (walaupun ada seribu hardikan akan ku katakan semua dengan senang hati), dia bilang suka pada orang lain. Memang! Dia benar benar GILA.
Biar kuceritakan sedikit supaya kalian tau. Oh ya... Aku sudah ceritakan di awal. Baiklah akan aku lanjutkan sedikit (sebenarnya banyak), kubilang sedikit supaya tidak ada yang tutup kuping duluan sebelum aku cerita.
Argh... Pusing sekali, harus dari mana aku mulai.
Baiklah, dia... (argh, kali ini aku kehabisan kata kata). Ya Tuhan, jika saja aku punya rekaman tentang hidupku, akan aku putar saja.
Adi adalah satu satunya bocah yang bilang suka dengan serius, sungguh sungguh dan bukan sekedar cinta monyet (pikirku saat itu). Pada saat itu aku juga punya rasa yang sama, dan akhirnya kita pacaran. Namun kami terhalang oleh jarak. Jika itu terjadi saat ini mungkin itu bukan masalah. Tapi ini terjadi dulu, tidak ada handphone, email, facebook, tweeter, dan semacamnya. Bahkan kalaupun kami sudah bisa menulis surat, entah kepada siapa surat itu disampaikan, kantor pos pun kami belum mengenal.
Mungkin pada saat ini dia bertemu dengan perempuan itu (kurasa tidak penting aku sebut namanya). Ya... Ternyata si perempuan itu masih menjadi bagian isi hati Adi. Walaupun pengakuan itu menyakitkan, karena dengan begitu selama ini Adi telah menduakan hatinya untuk orang lain (aku sebut saja 'selingkuh'), menyia nyiakan kepercayaanku. Namun, ada sedikit (tapi bukan berarti mengobati), Adi bilang perasaannya hilang setelah mengakui didepan kupingku (kenapa?), karena pada saat itu kami berbincang di telpon.
Enggan sebenarnya melanjutkan tulisan ini, tangan jadi kelu, berat, hati tak kuasa menahan sakit, dada sesak lagi.
Bukan bahagia setelah ini, justru aku kembali sakit. Kali ini hati pecah jadi dua ribu kepin. Sakit mendapati pesan dia di facebook, sakit ternyata kata katanya hanya bualan, sakit karena penyesalan telah kembali mempercayai Adi, sakit karena kebodohanku sendiri.
Semenjak itu hubungan kami benar benar buruk.
Lama setelahnya, aku menata hati sedikit. Akhirnya ku temui sedikit solusi untuk kebaikanku dan kesehatan hatiku. Kasihan dia, tidak berhasil ku lem dengan baik, sehingga kepingannya masih berserakan. Bahkan mengotori paru paru membuat nafasku sesak, menutupi jantung hingga darah tidak dapat beredar sempurna. Otakku pun tidak mendapat asupan gizi yang baik karena sang supir darah tidak sempurna berkemudi. Membuat pikiranku pendek, yang terpikir mati saja agar masalah ini selesai, agar beban ini ringan, agar sakit ini sembuh.
Untung saja aku berhasil menata hati, ku temukan solusinya. Aku memberikan kesempatan seluas luas nya pada Adi untuk bersama si perempuan. Aku bebaskan dia, maka akupun berhak untuk membuka diri dan hati bagi orang lain. Ini cara terakhir, terbaik dan mengurangi sakit, kecewa dan menambah semangat ku lagi.
Ikhlas memang indah, walaupun sebenarnya tidak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar